INDPORTAL.COM,TGM – Di tengah duka mendalam keluarga korban tenggelam di objek wisata Air Terjun Way Lalaan, Kabupaten Tanggamus, bantuan dari pemerintah daerah justru memantik keheningan lain, Sabtu (10/1/2026)
Santunan yang diberikan tercatat sebesar Rp3 juta untuk dua korban, atau sekitar Rp1,5 juta bagi masing-masing keluarga, angka yang terasa timpang dengan kehilangan dua nyawa anak-anak.
Santunan itu diserahkan saat Bupati Tanggamus, Wakil Bupati, serta jajaran Dinas Pariwisata bertakziah ke rumah duka di Pekon Belu, Kecamatan Kota Agung Barat. Namun bagi keluarga korban, uang bukan inti persoalan.
“Kami tidak hitung-hitungan soal uang. Kami sudah ikhlas,” ujar Devi Friza (34), orang tua salah satu korban kepada wartawan
Devi ditemui sekitar pukul 15.00 WIB di rumah sederhananya. Ia duduk tertunduk, didampingi ayahnya, Muhijar (58), yang akrab disapa Datuk. Sepuluh hari telah berlalu sejak tragedi itu, tetapi kesedihan belum juga mereda.
Saat peristiwa maut terjadi, Devi dan ayahnya tidak berada di Tanggamus. Keduanya bekerja sebagai buruh harian di sebuah perusahaan perkebunan karet di Provinsi Bengkulu.
“Di sini tidak ada kerjaan. Jadi kami kerja ke Bengkulu, upahan saja,” kata Muhijar pelan.
Kabar duka datang tiba-tiba. Tanpa sempat berpamitan, anak mereka pergi untuk selamanya. Devi dan ayahnya pulang tergesa-gesa ke kampung halaman, meninggalkan pekerjaan dan membawa luka yang hingga kini belum sembuh.
Meski demikian, keluarga korban menyatakan tidak berniat melaporkan atau memperpanjang persoalan hukum atas insiden tersebut.
“Kami tidak mau melapor ke siapa pun. Kami ikhlas. Tidak ingin memperpanjang apa-apa,” kata Devi.
Soal santunan Rp3 juta yang dibagi untuk dua korban, keluarga memilih tidak memperdebatkannya. Namun mereka menyimpan satu harapan: tragedi serupa tidak kembali terjadi di lokasi wisata yang sama.
“Kami sudah merasakan sakitnya. Jangan sampai orang tua lain merasakan hal yang sama,” ujar Muhijar lirih.
Tragedi Way Lalaan kini tidak hanya meninggalkan pertanyaan tentang keselamatan destinasi wisata milik pemerintah daerah, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana negara memaknai tanggung jawabnya atas nyawa warga.
Di Pekon Belu, duka itu tak diramaikan. Ia hadir dalam diam, dan terus tinggal di hati keluarga yang ditinggalkan.


