INDPORTAL.COM, TGM – Di tengah memanasnya tensi geopolitik global, Indonesia dinilai memiliki ruang untuk memainkan peran berbeda dalam percaturan internasional. Penulis dan pemikir sosial Jacob Ereste menawarkan konsep yang ia sebut sebagai diplomasi spiritual, Kamis (12/2/2026)
Menurut Jacob, dinamika global saat ini menunjukkan ketimpangan antara kemajuan teknologi dan kedewasaan moral. Dunia, kata dia, bergerak cepat dalam bidang sains dan ekonomi, namun tertatih dalam membangun etika bersama.
“Kita menyaksikan kemajuan luar biasa dalam sains dan ekonomi, tetapi konflik, krisis kemanusiaan, dan kerusakan lingkungan terus terjadi. Ada kekosongan etika dalam tata kelola global,” ujar Jacob kepada Indportal.com.
Ia menilai, politik internasional yang terlalu bertumpu pada kepentingan ekonomi dan kekuatan militer berisiko memperpanjang siklus konflik. Dalam situasi tersebut, pendekatan berbasis nilai menjadi semakin relevan.
Jacob melihat Indonesia memiliki modal sosial yang cukup kuat untuk menawarkan alternatif. Sebagai negara religius dan majemuk, Indonesia terbiasa mengelola perbedaan melalui musyawarah dan toleransi. Tradisi gotong royong dan penghormatan terhadap keberagaman dinilai bisa menjadi fondasi diplomasi yang lebih berorientasi pada kemanusiaan.
“Diplomasi spiritual bukan membawa dogma agama ke meja perundingan. Ini tentang menempatkan nilai keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral sebagai orientasi kebijakan luar negeri,” katanya.
Indonesia, lanjut dia, memiliki legitimasi moral sebagai negara demokrasi dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang tetap menjaga pluralisme. Posisi itu dinilai strategis untuk menjadi jembatan dialog antarperadaban di tengah polarisasi global.
Jacob juga menyinggung konsep rahmatan lil alamin sebagai relevan dalam konteks hubungan internasional.
Menurut dia, kehadiran suatu bangsa di dunia seharusnya membawa manfaat tidak hanya bagi kepentingan nasionalnya, tetapi juga bagi umat manusia dan lingkungan.
Meski demikian, ia menekankan bahwa diplomasi spiritual tidak boleh berhenti pada tataran gagasan. Implementasi konkret, seperti penguatan peran Indonesia dalam misi perdamaian, dialog lintas agama, serta komitmen terhadap isu lingkungan dan keadilan global, menjadi kunci.
“Kepemimpinan moral tidak identik dengan negara adidaya. Indonesia mungkin bukan yang terkuat secara militer, tetapi bisa berpengaruh lewat konsistensi nilai,” ujarnya.
Bagi Jacob, diplomasi spiritual merupakan tawaran paradigma di tengah fragmentasi global. Tanpa fondasi moral, ia menilai, politik internasional akan kehilangan legitimasi.
“Kalau politik kehilangan moral, ia akan kehilangan arah. Indonesia jangan hanya menjadi penonton. Kita punya identitas yang bisa ditawarkan,” kata dia.


